Kala Air Mencari Rumah Kita: Kisah Nanda Di Tengah Banjir Sumatera
Juli Yusran

2,715 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Hujan pertama datang pada senin malam. Ketika itu, Nanda masih menidurkan putrinya yang berusia enam tahun. Hujan turun bukan seperti biasa ‘ia berderai, mengeras, dan tak pernah berhenti sampai pagi’.

Pukul tiga dini hari, air mulai menyentuh ambang pintu rumah mereka di sebuah kampung kecil di Sumatera Barat. Beberapa tetangga sudah bangun, pusing memikirkan perahu kecil yang tak pernah mereka kira akan menjadi alat paling penting di hidup mereka.

Pukul empat, air sudah mencapai pinggang orang dewasa. Nanda menggenggam tangan putrinya, merasakan jantungnya berdebar tak henti. “Bu, kenapa airnya tinggi terus?” tanya putrinya dengan suara setengah mengantuk, tapi Nanda sudah tahu — ini bukan hujan biasa. Ini adalah awal dari sesuatu yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

Air yang Tak Pernah Surut

Di pagi yang sama, hujan masih mengguyur. Sungai yang biasanya tenang kini meraung, menelan tepian kampung dan menerjang rumah-rumah di sekitarnya. Jalan tanah yang biasa dilintasi sepeda motor berubah menjadi sungai sempit yang deras.

Hampir seribu korban telah meninggal dan ratusan lainnya hilang di seluruh Sumatra akibat banjir dan longsor ini — termasuk di Provinsi Sumatera Barat yang paling parah terpengaruh dalam beberapa hari terakhir. Korban yang hilang masih terus dicari di puing-puing lumpur dan reruntuhan rumah yang dibawa arus deras.

Nanda dan keluarga berhasil menyelamatkan diri bersama tiga keluarga lain yang memilih naik ke atap rumah. Dengan perahu rakitan, mereka bergerak menuju dataran yang sedikit lebih tinggi. Dari kejauhan, suara sirene ambulans berpadu dengan rintik air yang tak kunjung surut.

Kehilangan yang Tak Terucap

Di posko pengungsian darurat, tubuh-tubuh kelelahan berkumpul. Ada yang menangis sampai kehabisan suara, ada yang termenung memandangi foto keluarga yang kini tinggal kenangan. Di antara mereka, seorang ibu muda bernama Sari duduk termangu, memegang sebuah kaus kecil berukuran bayi.

“Ini kaus anak saya, ia hilang bersama suaminya,” ucapnya pelan, suaranya retak seperti bambu rapuh. Ia tidak bisa lagi melanjutkan kalimatnya, karena setiap kata terasa seperti memeras luka lebih dalam.

Di kampung lain yang ikut terdampak, puluhan keluarga meratap ketika petugas menemukan jenazah orang yang mereka cintai di bawah timbunan puing rumah. Rumah yang semalam masih penuh tawa, pagi ini menjadi tumpukan sisa-sisa kenangan.

Menggenggam Hidup di Tengah Krisis

Di posko bantuan, relawan membagikan selimut dan makanan. Nanda berdiri dengan wajah sembab, menatap ribuan jiwa yang sama terpuruknya. Ia mengusap debu tanah di wajahnya sambil menunggu kabar tentang ayah mertuanya yang tinggal di desa tetangga.

“Semua jalur komunikasi terputus… kami tak tahu apakah ia selamat atau tidak,” katanya. Di matanya tergambar ketakutan yang tak terukur — ketakutan akan kemungkinan terburuk.

Relawan lain berbagi kisah yang sama: rumah yang tersapu dalam hitungan menit, jalan yang putus tak bisa dilalui bantuan, anak yang hilang dari pelukan ibu sembari berteriak meminta tolong. Tak seorang pun menunggu air setinggi ini; beberapa bahkan tak sempat menyelamatkan lebih dari kenangan terakhir yang tertinggal di rumah.

Derita yang Tak Hanya Tentang Air

Banjir ini adalah bagian dari gelombang cuaca ekstrem yang telah memukul Asia Tenggara, membanjiri puluhan wilayah dan menghancurkan kehidupan jutaan orang. Bahkan angka korban terus meningkat, mencatat hampir seribu jiwa yang hilang atau tewas sejauh ini.(sumbarkita.id)

Di sudut lain kampung, seorang pria tua duduk terpaku di bawah pohon setengah roboh. Ia menggenggam foto keluarganya — istri, dua anak, dan cucu yang masih kecil. “Kami tak sempat membawa apa pun,” ia bersuara lirih. “Rumah itu… rumah kami…” Kalimatnya tersendat, tak lagi bisa diselesaikan oleh hampa.

Setiap rumah yang hancur bukan hanya bangunan — ia adalah panggung kehidupan, tempat jadwal harian, doa malam, dan harapan masa depan dirajut. Ketika banjir datang seperti mara bahaya, ia merenggut bukan hanya harta, tetapi kehidupan itu sendiri.

Di Balik Air: Refleksi dan Tantangan

Di tengah duka yang luar biasa, terdengar pula panggilan untuk perubahan. Banyak warga mulai bertanya — apakah bencana ini semata karena hujan deras, atau karena kita gagal membaca tanda-tanda alam yang semakin kuat?

Para ahli menyebut kombinasi cuaca ekstrem — termasuk hujan monsun yang belum pernah setinggi ini — sebagai bagian dari pola perubahan iklim yang makin menantang. Mereka mengingatkan bahwa kesiap siagaan bukan lagi pilihan — tetapi kewajiban. Pemerintah, masyarakat, sektor swasta, hingga lembaga pendidikan — semuanya harus terlibat dalam mitigasi risiko bencana, bukan hanya ketika tragedi sudah terjadi.

Menutup Hari dengan Harapan Baru

Ketika sore datang, hujan akhirnya mereda. Matahari yang muncul kembali disambut oleh ratusan wajah yang lelah namun tak putus harapan. Nanda duduk bersama keluarga lain, berusaha menguatkan diri dengan secangkir teh hangat di tenda pengungsian.

“Besok kami akan mencoba kembali ke kampung,” katanya. “Walau apa pun yang kami temukan… itu tetap rumah kami.”

Air mungkin telah mengambil banyak hal — rumah, harta, bahkan nyawa — namun ia tak mampu merenggut semangat manusia untuk bangkit. Di setiap senyuman kecil yang kembali muncul, di setiap tangan yang saling menggenggam, tersimpan sebuah pesan:

bahwa dari derita terdalam sekalipun, manusia mampu menemukan harapan — dan terus berjalan ke depan.

***

Penulis: Juli Yusran

Mantan Aktivis Lingkungan Hidup (KKI WARSI – Jambi)