Menanti Yang Tak Kembali, Di Balik Arus Yang Menyapu Duka Keluarga Padang Panjang
Je Yusran

3,736 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Padang Panjang (Centangbiru) – Pada 27 November 2025 lalu, derasnya banjir bandang yang menerjang kawasan Jembatan Kembar di perbatasan Kota Padang Panjang hampir menghapuskan segala yang dikenal warga di sana; rumah-rumah, pepohonan, jalanan dan yang paling menyakitkan adalah orang-orang yang mereka cintai. Arus itu datang tiba-tiba, menjungkirbalikkan hari yang biasa menjadi hari yang tak pernah mereka lupakan. Hingga kini, hari-hari yang seharusnya diisi tawa kini dipenuhi oleh harapan dan duka yang tak kunjung padam.

Di Posko Utama Tanggap Darurat, daftar nama korban terus tumbuh. Hingga Jumat (12/12), tercatat lebih dari 40 jenazah telah ditemukan, namun puluhan nama masih dinyatakan hilang, termasuk puluhan warga lokal dan dari luar daerah yang tak kunjung kembali ke pelukan keluarga mereka.

Di balik setiap nama itu, tersembunyi kisah pilu yang tak kalah memilukan. Seorang warga yang dikenal sebagai Toni — rumahnya lenyap beserta seluruh keluarga yang ia cintai — masih menggenggam secercah harapan meski realitas terasa begitu kejam. Sambil menatap reruntuhan bekas rumahnya, Toni berkata dengan suara tergetar:

semoga korban capek basobok, hidup atau mati, nan maningga bia dapek ditunaikan farhdu kifayahnya..”

Kalimat itu tentu bukan hanya doa, tetapi juga cermin dari penantian yang tak berujung, di mana setiap hari adalah perjuangan antara menerima dan tetap berharap.

Ini mencerminkan ungkapan harapan yang tetap menyala di hati keluarga korban meskipun realitas begitu berat, berharap bahwa orang yang hilang akan ditemukan — entah masih hidup atau dalam kondisi apapun — dan memberikan ketenangan bagi keluarga yang menanti.

Suasana di kampung yang dulu ramai sekarang berubah sunyi. Sepasang sandal kecil tergantung di belakang rumah yang hancur, seolah menunggu pemiliknya yang belum kembali. Foto keluarga yang terpasang di dinding yang roboh menjadi saksi bisu harapan yang tak pernah padam, meskipun kenyataan menghadirkan semburan air mata yang hampir tak tertahankan.

Seorang ibu, yang anaknya termasuk dalam daftar hilang, tidak bisa menghentikan doanya setiap pagi dan sore:

Ketiko ambo lalok, baharok inyo manjagoan ambo, Ketiko tajago, ambo ba arok inyo nyato masih ado, indak mimpi buruak …

Kalimat sederhana itu menangkap betapa kuatnya harapan di hati orang-orang yang tertinggal — sebuah harapan bahwa besok mungkin kabar baik akan datang, bahwa orang yang mereka sayangi mungkin masih hidup meskipun tanda-tandanya belum terlihat.

Para relawan dan tim SAR pun tak berhenti mencari. Mereka menyisir rerimbunan lumpur, sisa-sisa kayu besar, dan jalur sungai yang kini berubah tak bersahabat. Doa warga yang terkadang bergema bersama panggilan nama-nama yang hilang menggambarkan ritual penantian yang tak hanya fisik, tetapi juga spiritual. Harapan itu menyatukan komunitas yang hancur — bahwa di balik setiap arus banjir yang menyapu, masih ada kemungkinan untuk menemukan kehidupan.

Di tenda-tenda pengungsian, suara tangis terkadang berganti dengan nyanyian doa bersama. Ibunda seorang pemuda yang masih dicari memegang erat foto anaknya yang basah oleh hujan: “Aku masih yakin kamu akan pulang. Aku masih yakin suara itu akan terdengar lagi di sini…” ujarnya, dengan suara yang nyaris tak terdengar di tengah gemuruh hati yang berharap.

Duka yang tertinggal bukan hanya soal kehilangan, tetapi soal menunggu sesuatu yang mungkin tak pernah datang. Namun, selama harapan itu masih hidup, keluarga-keluarga ini tetap menunggu — dengan air mata, doa, dan keyakinan bahwa suatu hari, mereka akan dipertemukan kembali dengan jiwa-jiwa yang hilang — mungkin dalam keadaan selamat. Hingga saat itu tiba, mereka terus menanti di balik arus yang dulu menyapu semuanya.

Penutup

…Di balik kesedihan yang mendalam dan air mata yang tak henti mengalir, keluarga-keluarga ini terus menunggu — dengan doa, keyakinan, dan harapan bahwa suatu hari mereka akan dipertemukan kembali dengan jiwa-jiwa yang hilang, mungkin dalam keadaan selamat. Hingga saat itu tiba, mereka tetap menanti di balik arus yang dulu menyapu semuanya.

Tragedi ini juga mengingatkan kita bahwa bencana seperti banjir bandang datang begitu cepat, tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menyingkap kelemahan dalam kesiapsiagaan dan mitigasi yang harus diperkuat. Mitigasi bencana, yang mencakup sistem peringatan dini, pemetaan zona rawan, dan edukasi masyarakat, penting untuk mengurangi risiko serta menyelamatkan nyawa di masa depan. Sistem peringatan dini yang efektif, misalnya, bisa memberi waktu bagi masyarakat untuk bertindak cepat dan mengurangi dampak bencana secara signifikan.

Bagi keluarga korban, luka kehilangan mungkin tak akan pernah benar-benar hilang. Namun semoga pengalaman pahit ini memperkuat solidaritas dan kesadaran kolektif kita bahwa hidup berdampingan dengan alam membutuhkan sikap waspada, kerjasama, dan tindakan nyata. Doa-doa yang dipanjatkan bukan hanya untuk yang hilang, tetapi juga menjadi harapan agar generasi mendatang hidup lebih aman, lebih siap menghadapi tantangan alam yang tak terduga.

Dengan kerja sama semua pihak — pemerintah, lembaga, dan setiap individu — mitigasi bukan sekadar kata, tetapi langkah nyata untuk menjaga kehidupan, mengurangi duka, dan membangun komunitas yang lebih tangguh di masa depan.

***

Penulis: Juli Yusran/ (Mantan Aktivis Lingkungan (KKI WARSI Jambi)