Rudi Apriasi: Pemerintah Harus Serius untuk Normalisasi Sungai di Rao Utara
Foto: Banjir rendam sawah masyarakat Kp.Lubuak Hijau, Languang, Rao Utara (FB@dovinoindra)

4,349 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Rao Utara (centangbiru) – Banjir bandang yang merupakan luapan air Sungai Batang Asik Rao menghantam puluhan hektare sawah dan lahan pertanian masyarakat yang siap dipanen di Kampung Lubuak Hijau, Nagari Languang, Kecamatan Rao Utara, Kabupaten Pasaman, Sabtu malam, (4/4).


Salah seorang warga kampuang Lubuak Hijau, Karni mengatakan, akibat banjir ini membuat masyarakat setempat gagal panen.

“Banjir ini merendam sekitar 40 Hektare Sawah yang siap dipanen dan lahan Jagung. Akibatnya masyarakat gagal total panen. Kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah,” ungkap Karni, Minggu (5/4/2020).

Kejadian tersebut, kata Karni, berawal dari tingginya intensitas hujan yang mengguyur daerah itu sejak pukul 23.00 WIB (4/4).

“Akibatnya debet air Sungai Batang Asik ini meningkat drastis sampai tadi pagi dan meluap ke areal pertanian masyarakat. Ketinggian banjir bervariasi dari satu meter hingga tiga meter. Sampai saat ini juga tak kunjung surut,” katanya.

Anggota DPRD Pasaman, Rudi Apriasi turut menyampaikan duka cita dan keprihatinannya atas musibah banjir yang menghanyutkan padi masyarakat di Jorong Lubuk Hijau, Jorong Langung, Nagari Langung, Rao Utara yang tinggal menunggu hari untuk dipanen.

“Pada Musrenbang Kecamatan Rao Utara sudah kita sampaikan, perlu ada nya normalisasi sungai dari Jorong Rumbio, Nagari Koto Rajo sampai ke Jorong Lubuk Hijau, Nagari Langung. Sehingga terhindar dari banjir dimusim hujan dan ratusan hektar persawahan di sekitarnya bisa dimaksimalkan pengelolaannya,” ungkap Rudi Apriasi kepada Centangbiru, (5/4).

Rudi Apriasi selaku Ketua Komisi II DPRD Pasaman juga menyampaikan, bahwa normalisasi sungai ini membutuhkan biaya yang besar, sehingga dibutuhkan Keseriusan Pemerintah Daerah dalam rangka menjalin komunikasi dengan Kementerian PUPR sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kabupaten Siak, Provinsi Riau.

“Kabupaten Siak telah berhasil merevitalisasi ratusan hektar tanaman sawit dirobah menjadi persawahan, bahkan sistem pengairannya adalah pompanisasi yang menghabiskan biaya Rp 1 Milyar per tahunnya,” terang Rudi.

Rudi meminta pemerintah kecamatan setempat agar segera menyiapkan proposal untuk diserahkan ke Dinas PUTR yang kemudian dilanjutkan ke Kementerian PUPR.

Kepada pemerintah nagari, kata Rudi, diharapkan untuk membuat program penanaman hutan yang sudah gundul dengan tanaman durian, atau tanaman kayu yang bisa menyerap air sehingga meminimalisir terjadinya penguapan sungai.

“Kita berharap kepada semua pihak untuk tidak sembarangan menebang kayu di hutan, kepada pihak terkait dimohonkan untuk memperketat pengawasannya. Semoga kita dapat mengambil Hikmah dibalik bencana Banjir ini,” pungkas Rudi Apriasi.

(Unc)