Demi Hidupi Keluarga, Ibu Ini Jualan Kopi Keliling Hingga Pukul 7 Pagi

6,325 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini
Centangbiru – Sebagai manusia pastinya tak pernah lepas dari apa yang namanya cobaan hidup. Hal itu terkadang membuat hidup semakin sulit secara fisik dan mental. Layaknya sebuah roda kehidupan yang terus berputar, kita sering merasa masalah yang dihadapi begitu berat dan berpikir tak mampu melaluinya.
Namun percayalah, segala hal di dunia ini tidak ada yang kekal. Semua akan berlalu, begitu juga dengan permasalahan hidup. Agar masalah cepat teratasi dan tidak menjadi beban hidup, ada baiknya kita mencoba berpikir positif dan menjauhkan dari pikiran negatif. Meski terdengar sulit untuk dipraktikkan, namun berpikir positif ketika tertimpa masalah akan membuat kita dapat mengambil hikmah dari semua masalah yang kita alami. Bahkan ketika kita mampu berpikir positif dan jernih, kita mampu menemukan solusi terbaik dan tepat.
Terkadang kita membutuhkan kata-kata motivasi dari orang-orang terdekat untuk membuat hidup kita semakin semangat. Membaca kutipan inspiratif dan pengalaman berbagai orang di luar sana, bisa memotivasi diri untuk bangkit dan maju.
“Kopi..kopi.. kopi pak, teh tarik, cappucino panas..” terdengar sayup-sayup rendah, dari seorang ibu paruh baya di seputaran Jam Gadang Bukittinggi.
Adalah Eka Riska (41), suara sendu dari seorang ibu beranak tiga yang setiap malam hingga pagi menjelang, berjualan kopi keliling di depan Ramayana Bukittingi.
Di saat tengah pandemi sekarang ini, Ibu Eka sang penjual kopi keliling harus berjuang menghidupi ketiga anaknya dengan melawan rasa lelah, kantuk dan kegundahan serta kepenatan.
“Alhamdulillah, saya masih diberi kesehatan dan kekuatan untuk terus berjuang dalam terpaan hidup. Segalanya ini saya lakukan hanya untuk kelangsungan dan kebahagiaan anak saya,” ujar Bu Eka kepada Centangbiru, (29/1/2021).
Eka menjelaskan, bahwasanya dirinya berjualan kopi dari pukul 10 malam hingga pukul 7 pagi.
“Saya tak boleh mengeluh, syukuri saja. Segala itikad baik, akan dibalas kebaikan oleh Tuhan,” tutur Eka yang berdomisili di Mandiangin, dengan raut muka sayu.
Lebih lanjut, Eka mengungkapkan bahwa ia mempunyai suami yang bekerja freelance, sementara ia harus juga bisa mencari nafkah untuk menopang kebutuhan ekonomi keluarga.
“Sebelum pandemi, biasanya dapat semalam omzet 700 ribu. Tapi, sejak pandemi ini turun drastis. Palingan semalam sekarang jual beli saya kisaran 150 hingga 200 ribu. Apalagi kalau lagi musim hujan juga, malah makin sedikit,” terang Bu Eka Riska, yang telah jualan kopi keliling sejak 10 tahun lalu.
Ibu layaknya manusia biasa adalah seorang wanita yang bisa merasakan marah, kesedihan, bahagia terkadang juga kecewa.
Namun demikian, seorang Ibu tak akan pernah tega untuk mengabaikan anaknya. Ibu tetap akan merawat anak-anaknya hingga tumbuh dewasa dengan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan.
Hal inilah yang tertanam kuat dalam hati seorang Eka Riska. Walau tinggal di rumah kontrakan sederhana beratap kayu dan dinding rapuh, bersama ketiga anak dan suaminya.
Tidak hanya itu, dalam masa panceklik terkadang ia juga harus menjual barang berharga miliknya hanya untuk sekedar membeli beras untuk anak-anaknya.
Walaupun penghasilannya sedikit, Eka tidak pernah mengeluh dan seolah tidak mengenal lelah untuk terus berjuang demi kelangsungan hidup anak-anaknya.
Cerita Eka Riska adalah sedikit cerita seorang ibu yang harus terus berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, terlebih di tengah kondisi sulit seperti ini.
Percaya akan berujung indah dan rasa optimis beliau, patut kita jadikan motivasi diri untuk teruslah berbuat, teruslah berkarya, jangan menyerah. Walau hidup terkadang tidak seperti apa yang kita harapkan, walau hidup tiada seperti melodi indah sang penghibur dan goresan romansa para pujangga.
(Unc)


