Awas Kawula Muda, Serangan Jantung Tidak Hanya Dialami Orang Tua
foto : @hellosehat

930 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

JAKARTA, (Centangbiru) – Pola pikir yang mungkin masih banyak beranggapan bahwa penyakit jantung hanya menyerang orang-orang tua. Padahal, saat ini penyakit jantung muncul pada usia yang semakin muda.

Berapakah kategori usia “muda” yang dimaksud? Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Vito Damay menjelaskan, untuk perempuan usia “muda” yang dimaksud adalah di bawah 65 tahun. Sementara laki-laki di bawah 45 tahun.

“Sudah tidak terlalu heran kalau pada ada orang usia muda 30 tahunan (terserang penyakit jantung). Memang lebih banyak 50 tahunan ke atas,” kata Vito ketika ditemui di Plaza Indonesia, Jakarta, Senin (18/3/2019).

Ada sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi ini. Pertama, kata Vito, adalah karena semakin banyaknya orang yang peduli dengan kesehatan jantung kemudian melakukan pemeriksaan. Sehingga, penyakit janung dapat dideteksi lebih awal.

“Kalau dulu, mungkin orang pikir ‘ah, masuk angin, angin duduk’ terus tiba-tiba meninggal orang enggak tahu (kenapa),” ucapnya. Sementara sekarang ini banyak orang yang makin memahami gejala penyakit jantung.

Selanjutnya, pola hidup masyarakat muda dinilai semakin tidak sehat. Misalnya, cara pengolahan makanan yang semakin beragam.

“Dulu mungkin (makanan hanya) panggang, goreng, sekarang bisa diapa-apain. Dengan mudah bisa pesan makanan dan minuman yang kadar gulanya tinggi sehingga Anda obesitas,” kata Vito. Prevalensi masyarakat yang mengalami obesitas dan hipertensi juga kian meningkat. Padahal, keduanya merupakan faktor utama penyebab serangan jantung dan stroke. Penyakit jantung, terutama serangan jantung, bisa dicegah dengan cara sederhana: mengubah pola hidup. Beberapa faktor penyebab serangan jantung antara lain kebiasaan merokok, obesitas, darah tinggi atau hipertensi, kolesterol, hingga diabetes atau kencing manis.
Sementara faktor yang tidak bisa diubah adalah faktor genetika. “Itu sebabnya kenapa sering perokok bilang, ‘kakek gue 80 tahun merokok sehat-sehat saja.’ Itu karena genetik. Bagaimana tubuh kita merespons rokok (berbeda). Ada yang responsnya cepat, ada yang lama. Tapi rokok pasti menyebabkan sesuatu yang buruk,” ungkapnya.

(Kompas)