Lokasi Penemuan Arca Purbakala di Pasaman Ramai Dikunjungi Warga, Ini Penjelasan BPCB Sumbar
Foto: Putra de Nasuha dkk saat mengunjungi lokasi penemuan Arca kuno dan foto dua Arca kuno yang ditemukan puluhan tahun silam di Padang Nunang Rao

8,602 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Rao Selatan (Centangbiru) – Lokasi penemuan arca purbakala di sungai Sibinail Padang Nunang, Kecamatan Rao Selatan, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat menjadi ramai dikunjungi warga. Rata-rata mereka datang karena penasaran dengan temuan benda langka itu. Selain warga setempat, warga luar daerah dan warga Sumatera Utara juga sengaja datang meski hanya sekadar melihat-lihat dan mengabadikannya dengan kamera smartphone mereka.


Putra De Nasuha, salah satu pengunjung dari Kota Lubuk Sikaping, mengatakan bahwa dirinya mendengar kabar penemuan itu karena begitu viral di media sosial. Penasaran, ia bersama sahabatnya pun menyempatkan diri untuk datang ke lokasi penemuan tersebut yang berjarak tidak terlalu jauh dari Pasar Rao.

“Saya beserta rombongan sengaja datang kesini untuk hasrat penasaran kami, saya ingin melihat langsung bagaimana rupa aslinya,” ujar Putra.

Banyaknya orang yang berbondong-bondong itu, akhirnya menginisiatif warga setempat untuk memberi batas tali rafia di sekeliling arca. Tujuannya agar arca yang diduga peninggalan zaman Hindu kuno itu tidak disentuh oleh orang-orang yang tidak berkepentingan.

Sejumlah petugas keamanan juga terlihat mengamankan lokasi tersebut. Selain itu, warga juga memanfaatkan keramaian dengan berjualan berbagai khas makanan Rao karena begitu penuh sesaknya pengunjung.

“Selain penemuan patung arca purbakala ini, ternyata sebelumnya disini juga telah ditemukan dua buah benda kuno purbakala yang telah dipagari oleh warga. Menurut keterangan orang tua disini, di Padang Nunang ini telah dua kali ditemukan, yang satu kisaran 50 tahun yang lalu dan satunya lagi 20 tahun yang lalu,” terang Putera de Nasuha kepada Centangbiru (28/9).

Menurut Kepala Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar, Nurmatias mengatakan dari bentuknya, artefak itu berupa makara. Tapi untuk keaslian dan zaman pengerjaan masih dikaji. Dia menyebutkan, tim BPCB, Sabtu (28/9/2019) sudah menuju ke lapangan.

“Melihat dari bentuk artefak ini terbuat dari batu tupa dan biasanya makara ini dari zaman Hindu-Budha. Tapi kami belum melihat langsung. Mudah-mudahan nanti tim mendapat informasi yang lebih utuh,” ujarnya kapada Awak Media.

Lebih lanjut dia menjelaskan, Daerah Rao, Kabupaten Pasaman pada abad ke 13, terdapat peninggalan Prasasti Kubu Sutan dan Candi Koto Rao. Sedangkan Arca Duarapala berada dekat dengan anak sungai Rokan (Sumpu), Batang Sibinail yang merupakan pusat perdagangan emas dan perdagangan rempah-rempah.

Dia menerangkan, jika dilihat berdasarkan foto kiriman warga dari makara itu adalah pada bagian kaki atau pintu masuk, seperti sebuah bangunan suci agama Hindu-Budha.

“Kami perlu melihat secara langsung untuk mengetahui keaslian dari temuan ini. Kita perlu kajian,” ujarnya.

Nurmatias menambahkan, dalam sejarahnya, daerah Pasaman memang sudah terbuka dari abad ke 13 dan penguasa di sana bernama Bijeyendrawarman sebagai Yuaraja (raja muda) dan saudara Adityawarman.

“Ini berdasarkan isi prasasti Kubu Sutan Lansek Kodok Rao,” imbuhnya.

Dalam prasasti juga disebutkan candi. Sampai saat ini dari Tim BPCB Sumbar, baru menemukan Candi Koto Rao yang letaknya di 3 km sebelah timur Prasasti Kubu Sutan.

“Di bagian selatan Rao, kami juga menemukan Candi Tanjung Medan di Petok Panti dan Prasasti Ganggo Hilia Bonjol,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, masyarakat Kabupaten Pasaman dihebohkan oleh penemuan sebuah patung artefak yang terbuat dari batu berukuran sekitar 80 cm dari dasar Sungai Batang Sibanail Kampung Padang Nunang, Nagari Lubuk Layang, Kecamatan Rao Selatan Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, sekitar pukul 16.00 WIB pada Jumat (27/9/2019).

Warga setempat, Isap (27) yang menemukan patung tersebut mengatakan diduga benda sisa purbakala.

“Saat ini patung tersebut sudah kami angkat bersama warga ke pinggir Sungai Batang Sibinail tersebut. Patung itu diketahui memiliki berbagai corak wajah tertentu dibagian dinding patung. Diperkirakan beratnya mencapai 100 Kilogram,” terang Isap kepada media, Jumat malam.

Penemuan Patung yang diduga sisa Purbakala itu berawal dari saat dia bersama temannya Aat (15) pergi ke Sungai Batang Sibinail hendak memancing Ikan.

“Saat kami hendak menyeberang Sungai tersebut, kami lihat di dasar sungai ada sebuah batu yang bercorak ternyata sebuah patung yang diduga sisa purbakala. Selanjutnya kami sampaikan kepada warga setempat dan mengangkatnya bersama-sama dari dasar sungai dengan melibatkan 15 orang warga. Karena patung yang terbuat dari batu itu memang sangat berat,” pungkasnya.

(Covesia/heri/Unc)