Mengenang Gempa 30 September 2009 di Sumbar, 1.117 Orang Meninggal 135.448 Rumah Rusak

2,364 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
Centangbiru – Hari ini, Senin 30 September 2019, tepat 10 tahun telah berlalu tragedi gempa Sumatera Barat (Sumbar) 30 September 2009.
Gempa bumi yang terjadi sekitar pukul 17.00 WIB itu, berkekuatan 7,9 skara richter (SR).
Gempa ini berpusat di lepas pantai Sumatera, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.
Guncangan tersebut, meluluh lantahkah Kota Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat.
Selain Kota Padang, sejumlah daerah yang paling parah akibat gempa ini yakni Padang Pariaman.
Kemudian, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.
Menurut data Sarkorlat Penanggulangan Bencana Sumbar yang dilansir dari Kompas, gempa tersebut menewaskan 1.117 orang.
Korban tewas terbanyak ditemukan di Kabupaten Padang Pariaman, 675 orang.
Kemudian di Kota Padang sebanyak 313 orang, Kota Pariaman 37 orang, Pesisir Selatan 11 orang, Kota Solok 3 orang, Kabupaten Agam 80 orang, dan Pasaman Barat 5 orang.
Sedangkan korban luka mencapai 2.902 orang, yang terdiri dari luka berat 1.214 orang dan luka ringan 1.688 orang.
Tercatat juga ratusan ribu rumah rusak, antara lain rusak berat 135.448 unit, rusak sedang 65.380 unit, dan rusak ringan 78.604 unit.
Meski gempa tersebut telah 10 tahun berlalu, namun ingatan warga akan bencana tersebut masih melekat.
Tentu, sebagai masyarakat yang bermukim di Kota Padang yang potensi terjadi bencananya cukup tinggi, perlu refleksi ke belakang.
“InsyaAllah, 10 tahun pasca gempa 2009, kita akan jadikan sebagai suatu momentum peringatan. Acara puncak akan dilaksanakan pada 30 September 2019. Nanti ada pameran foto, renungan, zikir, dan doa bersama,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar, Erman Rahman, baru-baru ini.
Pada momentum tersebut, nantinya akan diundang masyarakat yang terdampak gempa, tokoh masyarakat, dan pegiat kebencanaan.
“Sehingga betul-betul 30 September itu menjadi suatu momentum renungan dan kita refleksi ke belakang bagaimana agar kita tidak terpuruk dalam kondisi tersebut,” jelas Erman Rahman.
Kemudian, ditambahkan Erman Rahman, menurut para ahli memang akan ada gempa berkekuatan 8,9 SR yang berpusat di Pulau Siberut Mentawai dan dapat menimbulkan tsunami.
Namun sebagai umat manusia, kata Erman Rahman, tidak tahu kapan akan terjadi bencana tersebut.
“Kita sebagai masyarakat yang bermukim di Kota Padang terutama yang berada di daerah Pesisir, hidup dalam ketakutan juga tidak baik. Tapi bagaimana kita selalu berdoa dan bertawakal,” imbau Erman Rahman.
Ia mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dan mengingatkan pentingnya mitigasi bencana.
“Kami akan terus sosialisasi kepada masyarakat bagaimana menghadapi bencana sehingga kalau terjadi gempa tidak bertumpuk pada satu lokasi.
Tapi gunakan shelter yang ada sebab gedung yang pemerintah bangun di atas tahun 2009, itu rata-rata sudah memiliki shelter di antaranya Kantor Kajari, Bappeda, dan Masjid Raya Sumatera Barat,” ungkap Erman Rahman.
Ke depan ia berharap bangunan bertingkat yang ada di daerah pesisir juga sudah memiliki shelter.
Sementara untuk Sirine peringatan tsunami, kata Erman Rahman, yang ada baru 32 unit dari kebutuhan 600 unit.
“Memang masih kurang, rencananya akan ditambah 15 unit lagi tahun 2019 ini.
Kemudian, kita akan memperbaiki sirine peringatan tsunami yang rusak dan sirine yang baru akan ditempatkan di daerah strategis,” ucapnya.
Pihaknya mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap terjadinya bencana.
“Hidup dalam ketakutan itu tidak bagus. Kemana mau pindah? Rumah, keluarga dan mata pencarian di sini (Padang-red).
Mari berdoa dan bertawakal. Mari kita hidup harmoni dengan bencana,” tutur Erman Rahman.
Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengatakan, tragedi gempa 30 September 2009 silam telah menjadikan momentum bagi semua warganya untuk mengevaluasi dan jadi renungan atau refleksi.
Menurut dia, momentum itu hendaknya dapat meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Kota Padang terhadap bencana dan musibah lainnya.
“30 September ialah momentum untuk mengevaluasi, meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat Padang terhadap bencana guna mengurangi risiko bencana.
Kita menjadikan Padang cerdas bencana untuk itu,” kata Mahyeldi di Padang pada Kamis (12/9/2019) lalu.
Untuk menjadikan Kota Padang sebagai cerdas bencana, Mahyeldi mengatakan Kota Padang juga telah menjalin kerja sama dengan Salandia Baru, China dan Jepang.
“Kota Padang juga menjalin kerjasama dengan Salandia Baru, Cina dan Jepang. Selain itu juga ada peraturan-peraturan atau perda guna meningkatkan sarana prasarana,” tambah Mahyeldi.
Pada pertemuan Forum Wali Kota ASEAN Bulan Agustus lalu, Mahyeldi juga mengungkapkan dirinya ikut menyampaikan presentasi Kota Padang dalam menanggulangi bencana.
“Pada Forum Wali Kota ASEAN, saya juga mempresentasikan Kota Padang dalam menanggulangi bencana dan kebijakan, pembagunan dan pendapatan,” kata Mahyeldi.
Menurut Mahyeldi, Wakil Wali Kota Padang, Hendri Septa baru-baru ini juga diundang ke Filipina dalam program mempresentasikan tentang program Padang dalam mengurangi resiko bencana.
Mahyeldi juga mengatakan konsep Kota Padang dalam menangulangi bencana adalah mengubah Padang dari air mata menjadi mata air.
“Konsep kita ialah mengubah air mata menjadi mata air.
Air mata maksudnya kita bersedih, karena risiko bahkan dampak bencana yang relatif begitu tingginya.
Namun kita siapkan dengan prasarana dan lainnya dalam rencana jangka panjang.
Sehingga masyarakat nyaman di Padang dan wisatawan banyak berkunjung ke Kota Padang,” pungkas Mahyeldi.
(TribunPadang)


