Aufklarung (Pencerahan Hati)
3,380 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
Centangbiru – Malam ini menenangkan. Binatang yang biasanya ribut, seperti jangkrik, kodok, atau nyamuk. Kali ini puasa berbunyi mungkin. “Enaknya baring … ,” gumam Dea rileks di kasurnya. Kemudian dia mulai teringat kebiasaan malamnya, menulis diary.
Menulis diary sudah jadi rutinitasnya hampir setiap malam, kalau terlalu capek atau lupa, dia menggabung cerita di malam selanjutnya. Yang penting menulis semua kejadian yang diingatnya pada hari itu.
Dea beranjak ke meja kecil dekat jendela, sudah stand by buku diary dan penanya di sana.
Sreek! Dea tarik kursi lalu mendudukinya.
Memandang sejenak buku itu, mengambil pena dan mengetuk-getuk mejanya.
“tek tek tek”. Mata dan bibirnya otomatis bergerak ke atas ketika mulai memikirkan kejadian seharian ini.
Membuka buku perlahan, selembar, dua lembar, lalu ke tengah. Sudah terisi separo, Dea membaca bagian akhir tulisan malam sebelumnya, (pokoknya seneng pake beut). Senyumnya muncul serempak dengan ingatan hari kemarin.
Di halaman yang kosong Dea mulai menulis, (Hallo ry,). Pandangannya bergerak ke sudut kanan meja, sekali lagi mengingat kejadian hari ini.
(Seharian ini aku dapet pencerahan banyak banget ry, tentang menanti jodoh. Mulai dari bebeb Siti yang kasih nasehat. Dia bilang gini ry “Ya tetep komunikasi aja, dari proses itu kamu dapet info lebih, daripada kamu diem. dia bakal bingung”. Ada benernya juga kan ry. Dia nambahin, “Kamu memang sedang menunggu, tapi belum tentu dia. Sekarang emang dia di hati kamu, hari ke depannya kan belom tentu, ada yang lebih sayang dan cocok sama kamu datang lebih cepat, kenapa enggak.”
Dea menulis itu dengan bersemangat, tertular dari cara bicara sahabatnya itu. Dea merasa tercerahkan.
Dea bercerita lagi, (Trus ry, aku dapet quote yang ngena banget sama kondisi aku sekarang, “Semakin besar cintamu, maka akan diberi cobaan melalui apa yang kau cintai, karena Allah ingin mengingatkanmu janganlah mencintai apapun di muka bumi ini melebihi cintamu kepada Allah”. Itu kata Habib … siapa gitu, lupa.)
Dea sadar, sedang menanti seseorang jodoh yang belum diketahui sesesiapanya. Setelah baca quote yang ditulis ulang itu, Dea semakin sadar, pernah beberapa kali bergantung kepada makhluk. “Astaghfirullah” desahnya.
Dea melanjutkan tulisannya, (ry, seharian ini story orang-orang kok kayak kompak nunjuk ke aku. pada buat kata2 atau lagu tentang menunggu, ya gitu-gitulah, udah kayak tema harian di KPFI aja, eh, hahaaa).
Dea tersenyum sendiri membaca tulisannya barusan, lalu menggaruk kepalanya dengan pena, sambil mengingat-ingat story yang dilihatnya. Pena kembali menggores buku.
(Masa, ada yg bikin gini, “Itu yang nunggu tanpa kepastian. Udah mah nunggu, kagak pasti lagi. Kok bisa kuat gitu sih, neng? (Hahaha).” Trus ada juga yg pasang capture ini ry, “Semoga tidak ada lagi perasaan yang mudah sayang hanya karena diperlakukan dengan baik, ingat, diberi perhatian belum tentu diberi kepastian”. Kan tersindir aku ry …)
Semakung itu ada, pikir Dea. Semesta mendukung, Allah sedang kasih pencerahan kepada Dea melalui sekitarnya. Dea mulai menulis lagi, (ry, aku yakin loh sama janji Allah, yg bilang manusia dicipta berpasangan, tapi muncul ragu dikiit aja, kok aku gagal terus ya,)
Dea mengingat kejadian demi kejadian, alurnya demikian teratur. Kenalan lalu dekat sudah mulai sayang, eh gagal. Apa yang salah sehingga ujiannya masih sama? Apa yang seharusnya dilakukan agar kejadiannya berbeda? Berakhir tidak gagal misalnya.
Ujian ini apa ada remedialnya? Kisi-kisi bagian mana yang belum terpenuhi? Kenapa gagalnya di bagian itu-itu saja? Dea bingung.
Dea meletakkan pena, menutup buku diary itu. Dia menutup muka dengan telapak tangan, mengusap lalu menopang pipinya. “Aku gak mau ngeluh ya Allah, aku cuma masih belum paham bagaimana cara yang sebenarnya,” ujar Dea dengan lirih.
“hmm… huft ….” Dea membuang napas berat. Dibukanya kembali buku diary dengan malas, dia harus menutup ceritanya, menulis bagian akhir yang memotivasi. Selembar, dua lembar, eh, Dea berhenti. Dia membaca tulisannya sendiri, agak panjang.
(Bikin status receh ah..)
Hey, kamu.
Dirimu tidak bisa dilupakan, padahal sudah berusaha.
Mulai saat ini, ku akan temani mu dari jauh,
Kalau yg terbaik adalah dekat dan bersatu, Allah yang akan melakukan itu.
Dan apabila takdir datang, aku akan tunjukan betapa besar perasaan yg tersembunyi ini,
Cinta yg akan ku wujudkan ini karena telah memendam rindu, menyayangimu dalam diam, menyukaimu tanpa syarat.
Maka bersabarlah, jika memang itu yg ditentukanNya,
Semua itu akan diperoleh, besok lusa dirimu akan mendapatkannya..
(udah lama gak bikin gombalan..)
Matanya melebar, napasnya sedikit tertahan. Kata-kata ini yang dibutuhkannya. Dea mendapatkan pencerahan dari dirinya sendiri. Kadang begitu, kita mencari-cari sesuatu yang membuat kita bahagia, padahal bahagia itu kita yang ciptakan.
Kita merasa, orang-orang sedang memberi pencerahan kepada kita, secara langsung ataupun tidak. Padahal pencerahan itu sedikit banyaknya ada dalam diri kita.
I see you true colors
Shining through
So don’t be afraid to let them show
Your true colors
True colors are beautiful
Like a rainbow.
Kotorajo, 20 November 2019
Sahlina Rizqiyah Batubara


