Mari Tumbuhkan Kesadaran Pentingnya Vaksin Covid-19

784 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Vaksin Covid-19, lebih baik tumbuhkan kesadaran akan pentingnya vaksin dibandingkan mengatur sanksi bagi yang tidak mau bervaksin.

Pandemi Covid-19 memasuki tahun kedua sejak mulai muncul di Indonesia, berbagai upaya dilaksanakan pemerintah sebagai langkah untuk pencegahan dan penanggulangan covid-19 ditengah masyarakat.

Selain usaha pencegahan penerapan 3 M (Memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak aman), pemerintah sejak januari 2021, juga telah melaksanakan program vaksinasi sebagai upaya pencegahan covid-19.

Vaksin yang dipilih dalam program vaksinasi oleh pemerintah indonesia, adalah vaksin sinovac. Prinsip vaksin ini sama dengan vaksin lainnya, yaitu dengan menonaktifkan virus covid-19 dan diharapkan ketika vaksin sudah masuk kedalam tubuh manusia, imun tubuh atau antibodi tubuh kita sudah mengetahui bentuk virus sebenarnya, sehingga diharapkan tubuh kita terbebas dari gejala.

Gelombang Vaksinasi covid-19 sudah menjangkau tenaga kesehatan hampir di seluruh Indonesia. Ada beberapa daerah yang melaksanakan ketentuan wajib bagi tenaga kesehatan, artinya ada sanksi tertentu bagi nakes yang aman secara kesehatan untuk vaksin tapi menolak untuk divaksin. Pemberlakuan ini mungkin akan baik untuk pencapaian target vaksin yang telah ditetapkan, tetapi mungkin berdampak jelek terhadap nakes yang terkesan terpaksa melaksanakan vaksin.

Dampak dari “pemaksaan” vaksinasi bagi nakes ini nampak memunculkan masalah dilapangan, di provinsi yang mewajibkan vaksin bagi nakes tersebut sekarang sedang banyak berita Nakes pingsan atau dirawat pasca vaksin.

Ini bertolak belakang dengan provinsi yang belum melaksanakan vaksinasi untuk nakes secara “paksaan”. Sumatera Barat contohnya, nakes masih diminta dengan kesadaran diri untuk mau divaksin, efeknya ternyata positif, sampai hari ini belum ada berita negarif tenaga kesehatan yang dirawat pasca pelaksanaan vaksin covid bagi nakes di Sumatera Barat.

Dua fenomena yang berbeda antara dua provinsi yang berbeda, tentu menarik dijadikan analisa untuk menentukan kebijakan vaksin kedepan. Menurut saya, ada faktor tekanan secara psikis yang membuat para nakes yang dirawat pasca vaksin, mereka mau divaksin karena terpaksa, bukan karena keinginan untuk terlindungi.

Di Provinsi Sumbar, kewajiban vaksin belum secara tertulis mengatur sanksi bagi nakes, tapi puji syukur Alhamdulillah dengan kesadaran diri untuk terlindungi para nakes sudah banyak yang menuntaskan dosis vaksin kedua dengan tanpa gejala apapun.

Vaksin tidak boleh ada paksaan.

Saya rasa dua fenomena diatas, harus dijadikan pedoman bagi kementrian kesehatan dalam menentukan kebijakan tentang vaksin ditengah masyarakat.

Menurut saya, yang harus dilaksanakan pemerintah adalah menimbulkan kesadaran kepada masyarakat akan pentingnya vaksin, dan berusahan memberikan pencerahan serta edukasi segencar mungkin. Daripada mengatur sanksi yang akan diperoleh masyarakat jika tidak mau untuk bervaksin.

Karena memang pemerintah memang wajib memikirkan yang terbaik untuk kesehatan masyarakatnya, disisi lain masyarakat juga punya hak untuk memilih pelayanan kesehatan yang diterima.

***

Penulis: dr. Wendra Saputra (Kepala Puskesmas Bawan, Kabupaten Agam)