Fenomena Adiksi Nonvisibel

761 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Terlihat ada 4 (empat) orang di sebuah ruangan penelitian untuk diwawancarai sebagai sampel. Diantaranya, ada pecandu narkoba dengan gangguan fungsi otak dan penurunan bentuk serta fungsi fisik, pecandu rokok yang terlihat sebuah bolongan di area pita suaranya, pecandu alkohol dengan penyakit strokenya, serta ada seorang pemuda yang bahkan terlihat seperti tiada kekurangan yang sangat sibuk mengambil gambar dengan ponsel genggamnya.

“Apa yang kalian lihat?” ujar pemuda itu. “jangan berpikir aneh, aku hanya ingin berbagi dengan para penggemarku”. Lalu tiba-tiba ia bergumam “sudah sejam tetapi mengapa hanya ada sedikit like, apa mereka berhenti menyukaiku? Apa bahkan mereka akan meninggalkan dan menghakimiku? Tidak,tidak mungkin. Aku telah melakukan apa yang mereka suka, bahkan aku terisolasi dari lingkunganku, ini sungguh tidak adil” ujarnya, sambil menangis dan memukul kepalanya sendiri.

Ya, dia adalah pecandu sosial media akut atau biasa dikenal dengan “FOMO” atau fear missing out, dengan gangguan kecemasan, dan sekarang mentalnya benar-benar rusak. Penderita gangguan ini berfikir bahwa akan terisolasi oleh lingkungannya jika ketinggalan update berita terbaru dan inilah yang membuat ia bertahan 24/3 di sosial media. Kondisi ini juga dikenal sebagai “Network Effect” , yaitu sebuah konsep yang menyebutkan bahwa semakin banyak orang yang terhubung didalam jaringan, maka semakin erat jaringan tersebut menjerat orang didalamnya. Contoh sederhananya saja, adalah tanpa kita sadari kita pasti pernah menjadi pelaku sekaligus korban dalam viralnya sesuatu demi keuntungan beberapa oknum.

Hal itu tidak melulu terjadi karena sebuah trend, melainkan karena ia tidak memiliki pilihan lain selain mengikuti arus yang dibuat oleh algoritma sosial media agar selalu terhubung dengan teman-temannya.

Lalu dimana letak bahayanya? Menurut Simon Senneck, terdapat beberapa kesamaan pada pecandu sosial media dengan pecandu lainnya. Sosial media memberikan dopamine pada otak yang menyebabkan seseorang bahagia saat mendapat tanggapan baik di sosial media, hal inilah yang menyebabkan seseorang bolak balik untuk membuka sosial medianya. Dopamine adalah zat kimia yang menyebabkan seseorang merasa senang, efek ini sama dengan yang dimunculkan oleh pecandu narkotika, alkohol dan juga rokok. Dengan kata lain, hal ini sangatlah adiktif.

Namun sebaliknya, seseorang akan mengalami traumatis jika ia tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan dari sosial media, salah satunya adalah “Anxiety”. Yang menyebabkan seseorang merasa cemas dan takut berlebihan akan sesuatu standar yang dibentuk oleh orang lain. Standar ini juga didukung oleh framing pada media sosial terhadap suatu standar yang dibenarkan karena muncul secara terus menerus, yang menyebabkan ia menjadi sebuah budaya. Contohnya adalah standar cantik yang ada dilayar kaca adalah putih, tinggi semampai, dan rambut hitam tebal. Lalu diperkuat dengan algoritma yang membuatnya tidak pernah tenggelam. Lalu timbullah membandingkan diri sendiri dan standar yang dibentuk tadi sehingga mereka merasa gagal.

Efek buruk dari sosial media mungkin tidak terlihat secara fisik, namun jika tidak mendapatkan penanganan yang serius, hal ini juga sangat berbahaya sama seperti efek pecandu lainnya yang penulis sebutkan di atas. Adiksinya sangat terasa, tetapi kita tetap membiarkan dan menikmati hal ini tanpa kita tau efek buruk yang mengikuti kita.

Penulis: Fara Salsabila