Bukan Salah Hujan; Bencana Sumatera Dan Kegagalan Kita Menjaga Alam
2,791 kali dilihat, 8 kali dilihat hari ini
Centangbiru – Ketika bencana datang bertubi-tubi di Sumatera mulai dari banjir bandang, tanah longsor, galodo, hingga hujan ekstrem yang terasa seperti tidak berkesudahan. Tentunya kita mendengar satu kalimat sederhana: “Karena hujan deras.” Kalimat itu terdengar logis, namun sekaligus menutupi kenyataan yang jauh lebih mendalam. Hujan bukan dalang utama di balik kerusakan yang menghancurkan rumah, desa, dan mata pencaharian.
Penyebab utamanya justru ada pada kita sendiri: pada tanah-tanah yang tidak lagi dijaga, hutan yang ditebang, sungai yang dipersempit, serta bukit-bukit yang dibiarkan gundul tanpa perlindungan vegetasi.
Sumatera Barat dan sebagian wilayah Sumatra lain kini berdiri di garis tipis antara bencana ekologis dan upaya melindungi ruang hidup.
Hampir setiap tahun, intensitas bencana hidrometeorologi meningkat. Namun, alih-alih melihat bencana itu sebagai alarm keras, kita masih menanggapinya sebagai rutinitas musiman. Padahal, bencana ini adalah konsekuensi dari akumulasi kesalahan tata kelola ruang yang berlangsung bertahun-tahun.
Faktanya, bencana ekologis di Sumatera bukanlah peristiwa mendadak. Ia merupakan puncak dari proses panjang deforestasi, perambahan hutan, konversi lahan gambut, dan pembangunan yang tidak pernah memperhitungkan daya dukung lingkungan. Di sepanjang bukit barisan hingga dataran rendah rawa gambut, hutan-hutan yang dulu rapat kini menyisakan tambalan hijau yang terputus-putus. Ketika akar-akar pengikat tanah hilang, bukan hal mengejutkan jika hujan sesedikit apa pun berubah menjadi bencana.
Hutan-hutan di Sumatera, terutama di daerah perbukitan dan kaki gunung, memiliki fungsi vital sebagai penyangga alam. Akar-akar kuat menahan tanah agar tidak mudah runtuh, kanopi pepohonan mengatur aliran air, dan struktur vegetasi membantu menyerap hujan secara perlahan.
Namun, fungsi itu kini kian melemah. Laju deforestasi di beberapa daerah meningkat seiring kebutuhan lahan untuk permukiman, pertanian intensif, perkebunan, hingga aktivitas tambang legal maupun ilegal.
Data dari sejumlah lembaga lingkungan menunjukkan bahwa hilangnya tutupan hutan memperbesar peluang banjir dan longsor hingga beberapa kali lipat dibandingkan wilayah yang masih memiliki hutan sehat.
Ketika hujan ekstrem datang, bukit yang kehilangan vegetasi tak lagi mampu menahan air. Tanah jenuh, lalu runtuh, membawa material batu dan kayu yang merusak desa-desa di hilir. Sungai yang menyempit akibat sedimentasi dan penumpukan material organik pun meluap dengan mudah.
Di titik ini, jelas bahwa hujan bukan penyebab tunggal; ia hanya pemicu. Kerusakan ekosistemlah akar persoalannya.
Banyak daerah di Sumatera Barat berada di kawasan cekungan, lembah, dan lereng gunung berapi aktif.
Kondisi geologis ini memang membuat wilayah tersebut rentan bencana, namun sebenarnya masih bisa dikelola dengan baik.
Masalahnya, kerusakan di daerah hulu mempercepat proses bencana di hilir. Banjir bandang yang terjadi di beberapa wilayah belakangan ini menunjukkan pola serupa: hujan ekstrem mengguyur hulu, vegetasi tidak lagi memadai, dan air membawa material hutan yang runtuh ke daerah permukiman. Sungai yang biasanya tenang berubah menjadi arus deras yang mengangkut batu, kayu, serta lumpur dalam jumlah besar.
Fenomena ini adalah bentuk paling nyata dari apa yang disebut krisis daerah tangkapan air. Ketika hulu rusak, hilir membayar harga paling mahal.
Kerusakan ini bukan hanya masalah ekologis, tetapi juga sosial. Setiap kali banjir datang, ribuan keluarga kehilangan rumah, usaha kecil tenggelam, jalan terputus, dan aktivitas ekonomi lumpuh.
Di banyak tempat, masyarakat sudah merasa pasrah karena bencana datang terlalu sering dan pola yang sama terulang tanpa perbaikan berarti.
Narasi “ini sudah takdir” atau “karena cuaca ekstrem” justru meninabobokan kita, membuat kita lupa bahwa bencana ini adalah buah dari keputusan-keputusan manusia, bukan dari langit.
Pemerintah daerah dan pusat sebenarnya telah menyusun berbagai regulasi lingkungan, tetapi implementasinya sering lemah. Pengawasan tata ruang longgar, izin konsesi tumpang tindih, serta penegakan hukum yang kalah oleh kekuatan modal membuat kerusakan terus meluas.
Hutan lindung diserobot, sungai dicemari, dan kawasan rawan bencana justru dibangun permukiman tanpa kajian risiko yang memadai. Di balik setiap luapan banjir, selalu ada jejak keputusan yang mengabaikan alam.
Sumatera adalah pulau yang kaya dengan gunung api, patahan aktif, dan curah hujan tinggi. Kombinasi ini seharusnya menjadikan mitigasi bencana sebagai prioritas mutlak.
Namun, realitasnya masih jauh dari kata siap. Peta rawan bencana sering kali hanya menjadi dokumen administratif, bukan pedoman yang benar-benar diterapkan di lapangan.
Pembangunan di zona merah longsor masih terjadi. Sungai-sungai besar mengalami pendangkalan tanpa penanganan serius. Daerah-daerah resapan air perlahan berubah menjadi permukiman padat atau lahan budidaya monokultur.
Paradoksnya, masyarakat sering disalahkan karena membangun rumah di lereng atau bantaran sungai, padahal sering kali mereka tidak memiliki pilihan lain. Penataan ruang yang tidak tegas dan lemahnya pengawasan pembangunan membuat masyarakat berada di posisi paling rentan tanpa perlindungan yang memadai.
Konservasi bukan sekadar upaya romantis menyelamatkan hutan. Konservasi adalah mitigasi bencana paling dasar dan paling penting. Menjaga hutan berarti menjaga kestabilan tanah.
Melindungi daerah resapan air berarti mengurangi risiko banjir. Mengembalikan vegetasi asli berarti menguatkan kembali daya tahan ekosistem.
Setiap bencana membawa kesedihan. Tetapi jika kita membiarkan akar masalahnya tetap ada, maka bencana berikutnya hanya tinggal menunggu waktu. Sumatera adalah tanah yang diberkahi dengan kekayaan alam yang luar biasa, namun sekaligus memiliki karakter geologis yang sensitif.
Jika alam tidak dijaga, ia akan kehilangan keseimbangannya dan kita akan menanggung akibatnya. Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan hujan.
Hujan hanyalah bagian dari siklus alam. Yang perlu kita perbaiki adalah bagaimana kita memperlakukan tanah, hutan, sungai, dan gunung yang sejak dulu menjadi penyangga kehidupan. Alam sedang memberi peringatan.
Kita hanya punya dua pilihan: mendengarnya dan berubah, atau mengabaikannya dan menunggu bencana berikutnya.
***
Penulis:
Sarah Nur Azizah
Mahasiswa Biologi Universitas Andalas
(Unc)


