Ketika Hutan Hilang, Keluarga Jadi Taruhannya

2,152 kali dilihat, 5 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Seperti yang kita ketahui bersama, pada tanggal 25-27 November 2025, hujan deras mengguyur kota padang dan sekitarnya Air sungai meluap, membawa gelondongan kayu dan lumpur. Batang Kuranji yang biasanya tenang berubah menjadi monster yang mengamuk. Dalam hitungan jam, ratusan rumah di Kecamatan Koto Tangah dan Pauh tersapu.

Perumahan Lumin Park yang semalam masih ramai dengan kehangatan keluarga, kini hanya menyisakan puing dan lumpur. Saat fajar menyingsing yang tersisa hanya kenangan, tangis, dan pertanyaan yang menggantung: mengapa ini harus terjadi? Bencana ini bukan sekadar murka alam, tapi bencana ini adalah tagihan dari hutang ekologis yang telah lama menumpuk. Ketika hutan di hulu hilang, keluarga di hilir yang membayar harganya dengan nyawa.

Banjir bandang yang menghantam Padang dan sejumlah daerah di Sumatera Barat pada 25-27 November 2025 mencatat duka mendalam. Di Kota Padang saja, Delapan warga dilaporkan meninggal dunia pada Jumat (28/11/2025) setelah terseret arus sungai yang meluap akibat hujan dengan intensitas tinggi. Seluruh korban berasal dari Kecamatan Koto Tangah, wilayah yang terkena dampak paling berat. Enam korban ditemukan di Lubuk Minturun, satu di Ukur Koto, dan satu lainnya di Pasie Nan Tigo. Selain korban jiwa, banjir ini juga menyebabkan dampak sosial yang sangat besar.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat 31.845 warga terdampak. Kerusakan infrastruktur permukiman juga cukup signifikan. Sebanyak 156 rumah tercatat mengalami kerusakan beragam mulai dari rusak berat, sedang hingga ringan. Lokasi kerusakan terbanyak berada di Kecamatan Pauh, sebanyak 80 unit rumah. Di Kecamatan Pauh, kawasan Batu Busuk menjadi saksi bagaimana air dan lumpur menelan rumah-rumah warga dalam sekejap.
Setiap angka yang tercatat terasa kelam ketika dibaca. Tapi setiap satuan angka tersebut ada tangis ibu yang kehilangan anak, suami yang mencari istri, keluarga yang kehilangan segalanya. Rumah yang dibangun bertahun-tahun seketika hancur dalam hitungan menit. Semua kenangan baik itu foto keluarga, ijazah anak-anak, dan dokumen penting lainnya semua hanyut terbawa lumpur. Yang membuat hati semakin sakit ketika mengetahui fakta bahwa tragedi bencana ini sebenarnya bisa dicegah, bukan semata takdir alam yang tidak bisa ditolak.

Wali Kota Padang menegaskan bahwa peristiwa banjir bandang ini merupakan fenomena yang harus diwaspadai karena membawa material lumpur, kayu, dan batu dengan arus deras. Satu pertanyaan sederhana muncul di kepala: mengapa air hujan yang seharusnya terserap tanah justru berubah menjadi monster yang membunuh?

Jawabannya ada di hulu sungai, di lereng bukit yang dulunya lebat dengan pohon. Bayangkan hutan seperti spons raksasa yang menyerap air hujan. Akar-akar pohon menahan air agar tidak langsung mengalir deras ke bawah. Tanah hutan yang subur menyimpan air seperti bak penampungan alami. Tapi sekarang, spons alami itu sudah hilang.

Khusus di Kota Padang, data menunjukkan bahwa terdapat 3.400 hektar hutan hilang, terutama di daerah hulu sungai dan bukit-bukit Barisan. Yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi Sungai Aia Dingin, salah satu sumber air utama Kota Padang. Hutan yang hilang ini kebanyakan ada di daerah hulu, padahal daerah inilah yang bertugas menahan air hujan agar tidak langsung membanjiri daerah di bawahnya. Kawasan yang seharusnya menjadi benteng ekologis justru mengalami degradasi parah akibat tekanan aktivitas manusia.

Ketika gelondongan-gelondongan kayu berserakan di sepanjang pantai dan sungai pasca-banjir, hal itu bukan sekadar bukti derasnya arus. Gelondongan kayu-kayu itu adalah saksi bisu penggundulan hutan yang terus terjadi di kawasan hulu. Fenomena gelondongan-gelondongan kayu yang hanyut terbawa arus sungai menunjukkan adanya aktivitas penebangan di kawasan hutan dan memperkuat dugaan bahwa praktik eksploitasi hutan masih berlangsung. Saat hujan deras datang, tanah langsung longsor akibat akar pohon yang sudah tidak ada mampu lagi untuk menopang air karena ketersediaannya yang sangat kurang. Air tidak lagi terserap, melainkan langsung mengalir ke hilir dengan kecepatan tinggi, membawa lumpur, dan kayu. Inilah yang menerjang rumah masyarakat, bukan sekedar rumah tetapi merenggut delapan nyawa masyarakat Padang dan ratusan lainnya di seluruh Sumatera Barat.

Lalu siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab atas hilangnya hutan-hutan di hulu? Pertanyaan ini tidak mudah dijawab karena melibatkan jejaring kompleks antara kepentingan ekonomi, lemahnya pengawasan, dan kebijakan yang tidak berpihak pada kelestarian lingkungan. Degradasi hutan dan rusaknya daerah aliran sungai terjadi akibat alih fungsi lahan, tambang ilegal, serta pembangunan yang tidak mengacu pada kajian lingkungan strategis dan analisis risiko bencana.

Di tengah kritik keras dari aktivis lingkungan, Dinas Kehutanan Sumatera Barat membantah bahwa terjadi deforestasi masif. Mereka menyatakan perubahan tutupan hutan di Kota Padang hanya sekitar satu persen. Tetapi angka satu persen tersebut memberikan dampak yang sangat luar biasa. Seperti di wilayah pegunungan yang memiliki daratan yang curam, ketika kehilangan satu hektar saja hal ini bisa memicu longsor yang mematikan.

Pemerintah memang sudah bergerak cepat dalam tanggap darurat. Bantuan terus mengalir kepada masyarakat yang terdampak bencana. Tim SAR bekerja tanpa henti mencari korban. Namun respons darurat saja tidak cukup, yang dibutuhkan adalah perubahan fundamental dalam cara kita memandang pembangunan. Pembukaan lahan demi kesejahteraan ekonomi tidak boleh lagi menjadi satu-satunya pertimbangan.

Prioritas utama sekarang adalah keselamatan rakyat dan kelestarian lingkungan, praktik-praktik eksploitasi hutan yang merusak harus dihentikan dan pelakunya ditindak tegas. Kawasan hulu yang kritis harus segera direhabilitasi dengan penanaman kembali pohon-pohon. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam semalam, tapi harus dimulai sekarang juga sebelum lebih banyak nyawa melayang.

Cuaca ekstrem adalah suatu fakta yang harus dihadapi di era perubahan iklim seperti sekarang. Namun, bencana tidak harus menjadi keniscayaan. Bencana adalah suatu teguran dari tuhan apakah kita sebagai manusia akan terus mengeksploitasi atau mulai memulihkan, pilihan untuk mengabaikan peringatan atau bertindak cepat, pilihan untuk melindungi keuntungan korporasi atau melindungi kehidupan rakyat.

Keluarga-keluarga di Padang dan wilayah Sumatera lainnya yang harus membayar harga dari pilihan yang salah. Mereka adalah pengingat keras bahwa hutan bukan sekadar aset ekonomi yang bisa dihabiskan. Hutan adalah penjaga kehidupan, benteng terakhir ketika ada bencana. Ketika hutan hilang, yang hilang bukan hanya pohon tetapi masa depan penerus bangsa dan negara. Saatnya kita memilih apakah terus mengorbankan keluarga untuk kepentingan segelintir orang, atau melindungi hutan demi kehidupan bersama. Karena ketika hutan hilang, keluarga jadi taruhannya. Dan kita sudah terlalu banyak kehilangan.

Penulis:

Nopra Mardelita

Mahasiswa Biologi Universitas Andalas

***

(Unc)