Payung Hitam Sang Raja (1)
2,730 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini
Payung Hitam Sang Raja (episode 1)
Centangbiru – Hujan tak begitu deras namun basah merata sejauh mata memandang. Seorang pemuda berlari tergesa-gesa membawa payung. Ya, dibawa tidak dipakai. Namanya Raja. Dia berlari ke arah perkuburan di kota ini. Dadanya terasa sesak karena berlari bercampur sesal yang mendalam.
Sesampainya di sana, dia melihat sekitar. Melangkah ragu, matanya mencari kuburan mana yang masih merah, yang taburan bunganya masih segar. Matanya memperhatikan, dadanya semakin berdegub. Itu dia, dipertajam matanya agar tulisan di nisan bisa terbaca. Risa binti Muhammad Ruslan. Dia lemas, tulisan itu kini memburam sebab penglihatannya dipenuhi air mata.
Dia tak berani mendekat, air mata sudah membanjiri pipinya. Kini matanya menatap kedua tangan yg meremas payung itu. Payung hitam. Dia mundur selangkah, dua langkah, lalu berbalik dan kembali berlari, “Maafkan aku, kak,” ucapnya lirih, suaranya tenggelam kalah dengan suara hujan.
Sungguh, rasa bersalah kepada orang yang sudah tidak mungkin kita mintai maafnya, sangatlah pedih. Ini adalah harinya yang paling kelam.
***********
Raja benar-benar berubah setelah kepergian orangtua mereka. Dia menjadi anak yang tidak bisa diatur. Raja sibuk dengan gawai di kamar, lari dari kehidupan sekitar. Dia tetap bersekolah sampai sekarang kuliah, namun itu tidak berpengaruh terhadap sikapnya.
Risa pernah bertanya kepada seorang psikolog mengenai sikap adiknya itu. Depresi. Begitu yang dia paham.
Hari itu, Risa mengikuti Raja sampai kampus. Dia memperhatikan adiknya dari kejauhan. Raja duduk di sudut taman, sendirian, mulai membuka laptop lalu benar-benar terbuai dengan itu.
Risa memandang dengan rasa iba juga rasa bersalah. Dia yang menyebabkan adiknya seperti ini, Depresi kurang perhatian, dan melampiaskan semuanya dengan candu game.
Titik gerimis berjatuhan. Risa mendongak, awan mendung makin menggumpal, sebentar lagi hujan akan menyiram. Dia masih memperhatikan adiknya yang mulai memasukkan laptop ke tas dan berpindah ke teras gedung.
Risa memeriksa tasnya, ada panyung lipat bunga-bunga. “Raja tidak akan mau pakai payung ini,” gumamnya. Dia beranjak pergi untuk membeli payung buat adiknya.
Didorongnya pintu sebuah toko, tak ingin berlama, dia langsung menanyakan di mana rak tempat payung. Karyawan itu memandunya. Risa memandang payung-payung itu sejenak lalu bertanya, “Tidak ada warna lain mbak?”. Karyawan itu menggeleng dan mengatakan hanya tersisa warna hitam.
Risa sedikit ragu, namun tetap diambilnya karena dia butuh sekarang untuk Raja. Risa membayar dan kembali menyusul ke tempat adiknya tadi. Risa melangkah, mendekat. Raja tetap asik dengan gamenya, tidak tau ada yang datang.
“Raja … ” sapa Risa.
Raja mendongak, kaget sedetik, namun mencoba mendatarkan ekspresinya kembali. Dia menunggu kata-kata kakaknya.
“Hari akan hujan, ini kakak belikan payung.” Risa menyodorkan payung itu.
Raja memandang payung hitam itu. Dia kembali membereskan barang-barangnya, beranjak dari tempatnya. Tanpa kata, ia berlalu meninggalkan kakaknya.
Bersambung,…
Kotorajo, 21 November 2019
Penulis: Sahlina Rizqiyah Batubara


