Terkepung Aparat dan Sempat Melawan, Desi Tiba-Tiba Buka Baju dan Celananya
Aparat di Cakranegara saat razia (dok.Harli/lombokpost)

1,843 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Mataram (Centangbiru) -Suasana keremangan Pasar Cakranegara, Kota Mataram Nusa Tenggara Barat malam itu mendadak pecah dan riuh saat aparat kepolisian, Satpol PP dan petugas dinas sosial datang.


Sejumlah waria yang duduk di atas meja atau lapak yang dipakai para pedagang berjualan saat siang, bubar, lari kocar-kacir.

Dandanan mereka, yang berusaha tampil feminim, berpakaian cenderung kurang sopan dan memakai riasan layaknya perempuan tulen, seketika sirna. Berganti dengan kegelisahan dan ketakutan.

Sebelumnya, di antara mereka terlihat sedang merayu seorang pria yang sedang memarkir motor di deretan ruko.

Namun, malam di lapak pedagang yang tenang menjadi heboh. Derap sepatu petugas berdengung di lorong pasar bersama teriakan petugas. Para waria berhamburan ke berbagai haluan. Sebagian masuk ke dalam los Pasar Cakranegara.

Sepatu hak tinggi yang mereka pakai serentak dilepas agar lebih cepat berlari dari kejaran petugas. Jumlah aparat yang lebih banyak telah mengepung pasar. Para waria tak bisa kabur terlalu jauh. Sebagian besar tertangkap dan digiring ke mobil patroli.

“Apa salah saya, Pak,” tanya waria yang mengaku bernama Desi, dengan suara khas lelakinya.

“Ayo, naik,” jawab petugas menggiringnya ke mobil. “Tidak mau, pak. Jangan, pak,” timpal Desi melawan petugas. Untuk menaikkan Desi ke dalam mobil patroli, butuh dua petugas. Perlawanan Desi cukup sengit.

“Kamu kok keras sekali. Seperti cowok,” tanya petugas. “Ya memang saya cowok,” jawab Desi ketus. “Mau bukti, ini saya buka baju langsung di sini,” kata Desi.

Tiba-tiba dengan cepat Desi membuka baju perempuannya itu dan akhirnya hanya menyisakan celana dalam saja.

“Ini lihat pak, saya cowok,” katanya sambil menunjukkan busung dadanya. “Iya, sudah. Diam kamu di dalam mobil. Awas, kalau kamu ke mana-mana,” tegas suara petugas.

Tim gabungan juga menelusuri bagian dalam pasar. Para waria diduga bersembunyi di balik lapak pedagang yang sudah tutup.

Terdengar suara kaki dari arah utara di dalam pasar. Tim sigap bergerak menuju arah suara itu.

“Stop, stop, jangan kabur woi,” teriak seorang petugas. Waria itu terus berusaha kabur. Setelah dicari, ternyata dia berlindung di Pos Polisi Cakranegara. “Saya tidak ke mana-mana, pak. Saya diam di sini,” jawab waria yang menyebut dirinya bernama Intan.

Dia mengaku dirinya hanya mencari makan. Dia mengelak kalau dirinya disebut sering menawarkan jasa hohohihi kepada lelaki hidung belang. “Tidak pernah saya seperti itu,” katanya.

Intan mengaku sehari-hari bekerja sebagai pegawai salon. Dia jarang mangkal di Pasar Cakranegara. “Saya tidak setiap hari ke sini. Karena diajak teman keluar tadi, makanya saya ke sini,” ucapnya.

Kasi Ops dan Ketertiban Umum Satpol PP Kota Mataram Made Agus Jewe mengatakan, Pasar Cakranegara saat malam sering berubah fungsi menjadi tempat kegiatan yang meresahkan masyarakat. “Aktivitas mereka sudah cukup lama dan meresahkan masyarakat,” kata Jewe seperti dikutip dari Lombok Post, Kamis (25/6).

Tak hanya waria, tim juga menangkap empat PSK yang kerap mangkal. Sebelumnya, mereka sering mangkal di Pasar Beras.

“Sekarang mereka berpindah ke sini (Pasar Cakranegara),” ujarnya. “Mereka semua diserahkan ke Dinas Sosial untuk didata dan dibina. Mereka harus menandatangani surat pernyataan. Jika mereka mengulangi perbuatannya lagi, mereka akan ditindak tegas, kami masukkan ke panti sosial,” imbuh Jewe.

Kapolsek Cakranegara AKP Zaky Maghfur mengatakan, operasi tersebut dilakukan Satpol PP Kota Mataram. Pihak kepolisian hanya membantu pelaksanaannya.

“Leading sektor operasi ini adalah Satpol PP. Mereka nantinya yang membina mereka,” kata Zaky.

Zaky menambahkan, keberadaan para waria dan PSK itu sangat meresahkan masyarakat. Sehingga, tim gabungan melaksanakan operasi. “Kami hanya ingin menjaga keamanan dan ketertiban di tengah masyarakat,” ujarnya.

(JPNN/lombokpost/Suharli)