Keistimewaan Malam Lailatul Qadar dan Ciri-Ciri Tanda Kedatangaannya
Masjid Albaariu' Nagari Pauah Lubuk Sikaping

4,212 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Lailatul Qadar adalah salah satu malam yang istimewa bagi umat muslim di bulan Ramadhan. Lailatul qadar adalah malam turunnya ayat-ayat pertama Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril.

Berdasarkan tradisi Islam, Nabi Muhammad pertama kali mendapatkan wahyu ayat-ayat Al Quran, setelah periode perenungan dalam pengasingan.

Malam lailatul qadar juga dimaknai sebagai malam ketika malaikat turun ke bumi, dengan membawa tugas memberi kedamaikan, berkah, dan bimbingan sampai fajar menjelang. Sebagian besar umat muslim pun merayakannya dengan ibadah dan doa, serta melakukan itikaf di masjid.

Dilansir dari laman Kompas, Minggu (2/5/2021), Ketua Bidang Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis menyampaikan bahwa Lailatul Qadar akan turun di tanggal-tanggal ganjil pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Tanggal-tanggal ganjil tersebut bisa pada tanggal 21, 23, 25, 27, dan 29.

“Bisa 21, bisa 23, bisa 25, 27, 29. Tetapi, tetap kita harus stabil di dalam beribadah,” kata Cholil, Minggu (2/5/2021).

Hal ini juga dinyatakan dalam hadist yang diriwayatkan Aisyah, Nabi Muhammad memerintahkan, “Carilah Lailatul Qadar itu pada tanggal gasal dari sepuluh terakhir pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari).

Meskipun malam lailatul qadar diyakini terjadi pada malam ganjil di salah satu hari di 10 hari terakhir di Ramadhan, akan tetapi tak ada yang tahu kapan hadirnya malam tersebut. Sebab kehadiran lailatul qadar dirahasiakan oleh Allah SWT.

Cholil pun mengingatkan umat Islam untuk tidak hanya memfokuskan ibadahnya pada malam-malam tersebut.

Ibadah harus dilaksanakan secara konsisten pada malam apa pun, bukan hanya pada saat Lailatul Qadar saja.

Ciri-ciri malam lailatul qadar

Ciri-ciri datangnya malam Lailatul Qadar telah disampaikan dalam sejumlah hadis.

Diriwayatkan dari Imam Muslim, “Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam kedua puluh tujuh (dari bulan Ramadan). Dan tanda-tandanya ialah pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Imam Muslim, 762).

Kemudian, riwayat dari Ibnu Abbas, Rasullulah SAW bersabda: “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan yang begitu menghangatkan dan menenangkan.” (HR. Al Baihaqi).

Tanda-tanda lailatul qadar, antara lain:
1. Udara yang tenang dan sejuk

Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Lailatul Qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah.”

2. Matahari terbit dengan teduh

Ciri-ciri malam Lailatul Qadar adalah cahaya mentari teduh, cerah tak bersinar kuat keesokannya. Dasarnya dari hadis Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Keesokan hari malam Lailatul Qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan.” (HR. Muslim).

Keistimewaan lailatul qadar

Dikutip dari laman Kompas, lailatul qadar dipercaya sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Kebaikan yang diperoleh seorang muslim pada malam tersebut melebihi nilai dari jangka waktu seribu bulan atau 83 tahun.

Mengutip Muhammad Adam Hussein dalam Sukses Berburu Lailatul Qadar (2015), Ibnu Rajab dalam kitab Lathoif Al Ma’arif menjelaskan bahwa hadits dalam musnad Imam Ahmad, sunan An Nasai, dari Abu Hurairah.

Dalam hadis tersebut, Nabi Muhammad bersabda: “Di dalam bulan Ramadhan itu terdapat suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapati malam tersebut, maka ia akan diharamkan mendapatkan kebaikan.” (HR An Nasai No. 2106, shahih).

Disebutkan bahwa pada malam lailatul qadar, doa-doa yang dipanjatkan akan diaminkan oleh malaikat yang turun ke bumi, sehingga doa-doa akan terkabul.

Pada malam itu, seseorang mendapatkan keberkahan berupa pahala berlipat ganda, dan ditentukan segala urusan dan peraturan mulai tahun itu sampai tahun berikutnya.

Sebagian umat muslim menyambut lailatul qadar dengan ibadah, doa, bahkan melakukan itikaf di masjid, menjembut malam istimewa di bulan suci.

***

Sumber: Kompas | Penulis: Arum Sutrisni Putri, Dandy Bayu Bramastha, Jawahir Gustav Rizal | Arum Sutrisni Putri, Sari Hardyanto