Monolog Hati

1,189 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Sayup hujan terdengar riuh, menemani malam yang kalut dan dan hati yang kusut. Ia datang dan berlabuh, kemuara hati yang sudah lama luluh lantak dihempas gelombang jahat tak bertata krama. sudah lama pulau kecil hati ini kututup rapat-rapat, tak pernah berhenti aku mengumpat, semoga tuhan memberi karma kepadanya si pria jahat. Hingga semesta memberinya padaku entah sekedar singgah atau menjadi rumah. Ia menjadi pelangi yang indah setelah badai reda. Namun selalu aku teringat, bukankah pelangi hanya sementara?

Namanya Refin, pria humoris yang sangat suka buah salak. iya salak, buah berduri dan sedikit sepat. begitu juga dengan dirinya. banyak orang yang berfikir bahwa ia adalah pria jahat tak berhati, melukai setiap orang yang ia dekati dengan duri. Namun, diriku bukanlah gadis bodoh yang melihat ia disatu sisi. Ia tetaplah lelaki manis dengan segala kekecutan didalam dirinya. memang benar ia berduri, tapi aku yakin bahwa duri tidak selamanya menyakiti, semuanya hanya tergantung bagaimana kita menggenggamnya dengan berhati-hati.

Dan namaku Clara, gadis pemurung yang sangat suka buah lemon. Orang-orang bahkan menjuluki ku si ‘lemonade girl’, mereka semua tau bahwa aku sangat fanatik dengan buah lemon. Bagaimana tidak, aku meminumnya setiap hari bahkan setiap saat tanpa peduli lambungku yang malang. Tidak hanya itu, aku juga sangat suka warna lemon walaupun semua orang menertawaiku sigadis aneh yang norak. Namun yang terpenting dari sebuah lemon bagiku adalah filosofinya sendiri, menjadi dasar dalam kehidupanku. “meskipun hidup mu pahit seperti lemon, buatlah ia menjadi lemonade yang manis”  ahhh… aku selalu tersenyum mengingatnya meskipun seberapa besar masalah yang sedang kupikul.

Semuanya dimulai pada hari itu, malam itu. Dibawah rembulan dan ditemani sedikit bintang dengan cuaca yang sangat dingin diperjalanan menuju kota, aku, clara si gadis pemurung, jatuh hati padanya, lelaki yang penuh kejutan. Aku tau, menaruh hati yang sudah rapuh kepada seorang pria yang sulit ditebak adalah keputusan yang sangat keliru. Hari itu aku mengutuk diriku dan mencoba berusaha meyakinkan bahwa aku tidak boleh jatuh cinta pada Refin. Namun itulah wanita, logika dan hati selalu tak berjalan beriringan.

Semakin hari rasa itu semakin menjadi, hari-hari kulalui dengan rasa kalut dan bimbang. Mengubah paradigmaku,dan memenuhi kepalaku dengan pertanyaan-pertanyaan memuakkan. “Apakah Refin juga bisa mencintaiku?” “Apakah Refin akan menyakitiku seperti semua orang?” “Apakah refin masih tinggal dimasa lalunya?”  entahlah, semua ini terasa bagai pisau bermata dua. Jika aku bertahan, aku tidak ingin jatuh kelubang yang sama, bersaing dengan masa lalunya yang aku tau aku takkan pernah bisa. Atau memilih pergi, dan membiarkan ia bahagia dengan pilihannya sendiri yang jelas-jelas adalah sebuah pilihan yang keliru.

Sampai pada akhirnya, aku teringat filosofiku sendiri, semua kepahitan bisa aku buat dengan manis, semua hanya tinggal aku yang memilih, lemon yang pahit, atau mengolahnya menjadi lemonade yang manis. Aku yakin aku bisa, aku adalah clara, gadis yang dianugerahi rasa sabar yang luar biasa. Aku hanya perlu menjadi versi terbaik bagi diriku untuknya, tentang bagaimana ia padaku, biarlah itu menjadi urusannya. Kusematkan selalu ia dalam doa-doaku, nama itu selalu hadir dalam dialog romantisku dengan tuhan. Aku akan terus berjuang, membuang semua pikiran negatif didalam kepalaku, sampai pada akhirnya aku akan lelah pada diriku sendiri.

Memang benar, berharap pada seorang manusia adalah rasa sakit yang kita ciptakan sendiri. Tapi setidaknya padanya aku belajar, bagaimana berjuang dan rasa sabar. Kelak jika tuhan tidak mempertemukan kami, aku akan tetap bersyukur, telah menikmati pelangi yang sangat indah setelah badai mencekam meskipun itu hanya sementara. Tapi aku yakin, tuhan akan berpihak pada siapapun yang mau berusaha. Jika memang ia masih tinggal dimasa lalunya, aku ingin menjadi masa depannya. jika memang ia masih diikuti bayang-bayang itu, aku akan memohon pada sang cahaya untuk segera pergi dan membawa semua bayangan itu, meskipun aku tau bayangan akan selalu mengikuti bahkan ditempat gelap sekalipun,  walaupun iya tak terlihat. La Tahzan Innallaha Ma’Ana , yang terjadi terjadilah, aku adalah seorang hamba yang mensyukuri skenario tuhan seberapa burukpun itu bagiku, tapi aku yakin, itu adalah pilihan terbaik oleh tuhanku atas diriku.

(***)

Monolog Hati

Oleh: Fara Salsabila