Sambut Pemilu dan Pilkada 2024 Dengan Segala Fenomenanya

903 kali dilihat, 12 kali dilihat hari ini

Centangbiru – Nuansa Pemilihan Umum (Pemilu) maupun Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) tidak lama lagi akan terasa, menyusul akan segera ditetapkannya tahapan Pemilu maupun Pilkada oleh pihak penyelenggara KPU RI, yang keanggotaannya telah dilantik oleh Presiden RI, Joko Widodo pada 12 April 2022 lalu.

Sebagaimana rilisnya, KPU menyebut rencananya tahapan pemilu serentak 2024 akan dimulai 14 Juni 2022. Sedangkan, pemungutan suara untuk Pemilihan Umum Presiden dan Pemilu Legislatif, jatuh pada hari Rabu, 14 Februari 2024. Dan Pemilihan Kepala Daerah serentak di 27 November 2024 mendatang.

Berbagai prediksi dan asumsi jelang suksesi lima tahunan pejabat politik itu, kini sudah mulai muncul. Ada yang normatif berdasarkan keilmuan, namun tidak sedikit yang berasumsi kekalbuan, dampak pengalaman ‘pahit’ atau kesempatan emas yang sempat diperoleh usai aksi heroik ‘pasang badan‘ dukung mendukung di pemilu yang lalu.

Berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, pesta demokrasi nan sekarang diperkirakan bakal lebih glamour dari Pemilu sebelumnya, dengan ‘cost‘ yang juga jauh lebih tinggi.

Pihak pemerintah telah mematok, anggaran biaya Pemilu 2024 sebesar Rp 110,4 Triliun. Woow, sederet angka yang sangat fantastis jumlahnya.

Sementara dari pihak peserta pemilu itu sendiri, –bacaleg maupun bacakada, juga harus berhitung matang sedari sekarang. Karena yakinlah, jika hanya ‘main tanggung’, hasilnya pun akan menanggung pula.

Ibarat orang mau berperang, bersosoh itu iya sebenar bersosohlah. Jika perlu, sehabis beras ditanak. Tidak cukup mengandalkan peluru yang ada dalam Bedil saja, namun kotak peluru serap juga harus penuh”.

Secara majemuk, ada physikis traumatik politik yang kini tengah melanda masyarakat secara umum. Ada semacam kejengahan di tengah masyarakat untuk tidak berpatokan lagi pada janji program dan janji-janji politik para caleg dan cakada.

Ada istilah janji manis berbunga dusta, dan ada pula janji ‘Hetty Koes Endang‘ atau janji-janji tinggal janji.

Berkaca dari pengalaman, seharusnyalah kita tidak terjebak dalam persoalan serupa. Pengalaman jadikan pelajaran, kesalahan jadikan peringatan. Salah dalam menentukan pilihan 5 menit di bilik suara, 5 tahun menanggung perasaian akibatnya.

Ada nilai-nilai yang harus dipetik, dari beberapa kali agenda politik yang telah dilalui dan diikutsertai oleh kita dan masyarakat secara umum.

Masyarakat harusnya tahu dulu, apa itu substansi dari diselenggarakannya Pemilu di negara ini.

Pemilu merupakan pesta demokrasi yang bertujuan menyalurkan hak-hak asasi politik yang dimiliki rakyat, untuk memilih anggota legislatif serta pemimpin daerah dan nasionalnya.

Jadi jelas, bahwa Pemilu merupakan ajang menyalurkan Hak Asasi. Lalu kenapa harus muncul pertanyaan, apakah hak asasi bisa dibeli dan dihargai dalam bentuk materi?

Entahlah.. Namun, terlepas dari substansinya, yang jelas Pemilu dari waktu ke waktu terus merosot secara kulitas, namun kian meroket secara “quantity” cost-nya.

Dalam hal ini, tidak ada pihak yang dapat diklaim bersalah secara sepihak. Bak gayung bersambut, atau bagai menjual produk di ‘black market’, tegas dikatakan ada uang ada barang. Artinya, secara umum ajang pemilu sarat dengan intrik transaksional.

Walau tidak berlaku sama, namun kecenderungan itu ada di banyak daerah.

Saya tentu tidak boleh vulgar merinci hal tabu tersebut, namun kita tentu sepakat, bahwa fenomena yang demikian telah jamak berlaku.

Sekarang, bagi para pemangku kepentingan di negara ini, harusnya bisa lebih cerdas meracik formula yang tepat, agar pemilu bisa kembali ke azasnya, sebagaimana konsep di zaman orde baru dulu, walau terapannya tidak harus total seperti itu.

Azas pemilu Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia, hendaknya bisa berjalan pada koridornya kembali. Rakyat selaku pemegang kedaulatan tertinggi, harusnya benar-benar berdaulat menentukan pilihan politiknya.

Tidak trend-nya lagi, kisah perjodohan Datuk Maringgih dan Siti Nurbaya dalam memilih pemimpin di zaman modern ini, terjadi pula. Maksudnya, lantaran dijodoh-jodohkan oleh Tim Sukses dengan mahar seperangkat tunai, maka akan jatuhlah pilihan pada Si “Datuk Maringgih”.

Tidak melulu berlaku bodoh, itu lebih baik. Mari sambut riang gembira penyelenggaraan Pemilu dan Pilkada 2024 dengan semangat dan keceriaan hati.

***

Penulis : Budi Hermawan