Dewi Calliope dan Marigold (Cerpen)

768 kali dilihat, 6 kali dilihat hari ini

Dewi Calliope dan Marigold

Oleh: Fara Salsabila

Setelah menginjak dewasa, Calliope resmi mengemban tugas dari kerajaan ayahnya. Putri kedua dengan paras nan menawan dan suara yang indah ini, diutus Sang Raja untuk turun ke bumi, memberi takdir pada manusia dengan memberi sari bunga yang terdapat arti berbeda dalam setiap jenisnya. Bunga Krisan, yang melambangkan kejujuran. Bunga anyelir yang melambangkan manis dan penyayang.  Bunga mawar yang melambangkan kesetiaan, dan bunga marigold yang melambangkan kekejaman serta kedukaan.

Calliope adalah seorang Dewi disebuah kerajaan langit yang mengatur segala sesuatu dimuka bumi. Sejak kecil, Dewi nyanyian ini sudah jatuh cinta dengan sebuah Negri yang indah, Negri Elisian. “Wahai Ayahanda, Daku sudah tidak sabar lagi untuk turun ke bumi.” Itulah kata-kata yang selalu ia lontarkan tanpa henti hingga hari ulangtahunnya yang ke 17.

Anakku, Dewi Calliope. Dengan seluruh kepercayaan, ayahanda akan mengutusmu turun ke bumi. Dengan kekuatan 4 bunga dari bidara surga, masing-masingnya memiliki makna yang berbe-” belum selesai Sang Raja berbicara, Calliope lansung memotong pembicaraan itu. “Sudah ayah, tidak perlu engkau jelaskan lagi, daku sudah dari lama menanti saat ini tiba dan sudah mempelajari semuanya” tanpa babibu lagi, Calliope lansung mengambil bunga-bunga dan serbuknya itu dengan wajah yang berseri-seri.

Baik anakku. Namun perlu kau ingat, jangan pernah mendekati Manusia, mereka adalah makhluk terkejam yang akan kau temui. ” ujar Ayahnya dengan nada serius. “Baik, Ayahanda” Caliiope lansung mengepakkan sayapnya dan lansung turun ke Negeri Ellisian.

Dengan rasa yang sangat Bahagia, Calliope menyusuri tanah syurga negeri Ellisian. “Wahh.. negri yang sangat makmur” ujarnya, sambil terpaku melihat kekayaan alam negri itu hingga akhirnya Ia tidak menyadari keberadaan seorang wanita sebaya didepannya

Brakkk” mereka terjatuh bersamaan. “ma-maafkan aku” ujar perempuan itu. “bukan, ini bukan salahmu. Aku yang kurang memperhatikan jalanku” ujar Calliope. wanita itu lansung memapah Calliope berdiri dan mencoba menyeka pakaian Calliope yang kotor. “Hm.. ia sangat manis dan penyayang, Anyelir sepertinya ide bagus” ujar Calliope dalam hati.

Namun saat memeriksa kantong bunga itu, Calliope tampak terkejut. “Kenapa anyelir ini memiliki 2 warna, putih dan kuning.. Tetapi ayahanda juga hanya menyebutkan hanya ada 4 jenis bunga” gumamnya. “Ada apa, Puan?” ujar wanita itu menanggapi Calliope yang tampak kebingungan. “Ti-tidaak apa-apa. Kalau saya boleh tau, kamu lebih menyukai warna putih atau kuning?” Calliope balik bertanya. “Hmm.. sepertinya kuning lebih ceria” ujar wanita itu.

Tanpa berpikir Panjang, Calliope menabur serbuk anyelir kuning dan lansung terbang menjauh.. Wanita itu tampak terkejut mendapati Calliope ternyata memiliki sayap dan tanduk,terlihat jelas meski pandangannya samar tertutup serbuk.

— Calliope yang panik terbang tidak karuan hingga ia menabrak sebuah pohon besar didepannya dan membuat ia tidak sadarkan diri. Kehadirannya lansung diketahui oleh seorang pemuda tampan yang sedang berburu disekitar tempat Ia terjatuh, pemuda itupun lansung memapah Calliope kerumahnya.

Setelah Calliope terbangun, ia terkejut karna sudah berada di sebuah gubuk sederhana. Dan terlihat hidangan makanan yang telah disiapkan pemuda tadi. Calliope yang sudah merasa sangat lapar tanpa ragu menyantap semua hidangan itu. “Ayah bilang manusia adalah makhluk paling kejam, namun sepertinya bukan” gumamnya dalam hati.

Calliope yang merasa sangat berterimakasih pun berinisiatif untuk membersihkan gubuk itu. Dengan penuh rasa Bahagia, ia bernyanyi sambil bekerja, tanpa sadar ada pemuda yang sedari tadi memperhatikannya di pintu masuk. “Apa kau sebenarnya bidadari?” tanya pemuda itu tiba-tiba.

Calliope sangat kaget dan ingin segera kabur. “Ma-maaf jika aku mengejutkanmu, Aku adalah orang yang menyelamatkanmu dan Aku tidak akan melukaimu” ujar pemuda itu menenangkan. Calliope tampak tersipu, seketika wajahnya menjadi merah.

Pemuda itu datang mendekat dan mengusap pipi Calliope. “kau menjadi semakin cantik jika seperti ini, dan suaramu juga sangat indah. Kenalkan, aku Agra. Pemburu dari timur negri Ellisian.” Ujar pemuda itu menarik dan memberi jabatan tangan kepada Calliope. “Calliope” ujar calliope kaku. Ia membatu, baru pertama kali ia merasakan lansung bersentuhan dengan lawan jenisnya dan sialnya, manusia. “Kau boleh tinggal disini selama kau mau, Calliope, tentunya hingga lukamu sembuh” ujar pemuda itu sambil tersenyum. Calliope menjadi semakin terenyuh.

— Hari-hari telah mereka lewati Bersama, Calliope mulai menyadari sesuatu perasaan yang aneh dari dalam dirinya. Dan perasaan itu semakin menggebu di setiap harinya. Ketika pemuda itu terlelap, Calliope menaburkan semua jenis dan warna serbuk bunga kepadanya, tentunya selain bunga marigold. “kesetiaan, manis,  penyayang, dan kejujuran, semuanya untukmu Agra” gumam Calliope sambil tersenyum menatap pemuda itu. “Aku mencintaimu Calliope, tetaplah disini” ujar pemuda itu menggigau dalam tidurnya. Calliope tampak bingung, “Cinta, apa itu cinta? Apakah semacam rasa aneh yang aku rasakan jua? Aku juga sangat ingin terus disisinya” ujar Calliope dalam hati.

Calliope pun memutuskan untuk kembali terlebih dahulu ke istana kerajaan  langit. Namun sesampainya disana, ia disambut oleh wajah murka ayahnya. “Calliope! Apa yang telah kau lakukan sungguh sudah kelewatan!” bentak ayahnya. “T-tapi ayah, apa salah Ananda?” ujar Calliope bingung.

Kau tanpa teliti telah sembarangan memberi saripati bunga. Apakah kau tau, disetiap warna yang berbeda memiliki arti berbeda?!” tanya Ayahnya dengan nada tinggi. “m-maksud Ayah?” tanya Calliope ketakutan. “ini yang kau bilang paham? Ini yang kau sebut sudah mempelajarinya? Kau sungguh ceroboh! Apakah kau tau anyelir kuning adalah lambang penghinaan? Dan mawar juga memiliki 2 warna. Merah memang melambangkan kesetiaan, tetapi yang kuning adalah sebaliknya!” ujar ayahnya marah “A-apaaa?!!” Calliope tampak sangat kaget dan shock. “tidak hanya itu, kau bukan hanya mendekati manusia, tapi kau sudah menyimpan rasa! Mulai sekarang kau tidak kuizinkan lagi untuk turun ke bumi!

Ayahnya benar-benar sudah kehabisan kesabaran. “Tidak, Ayahanda. Aku, aku mencintainya, dan aku akan tetap memilih hidup bersamanya” sepertinya Calliope sudah mulai memahami apa itu cinta. “Calliope! Kau akan menyesal! Manusia itu kejam!” ujar ayahnya mengingatkan. “lebih kejam mana daripada Ayahanda yang mengubur mimpi yang dari dulu aku nantikan untuk turun ke bumi! Ini hidupku ayah! Aku yang menjalani!” Calliope terus melawan.

Ayahnya yang sudah sangat marah lansung mengutuk Calliope kehilangan suara indahnya, Calliope tampak sangat sedih dan lansung Kembali ke bumi.

— “Calliope, kau kemana saja? Aku mencarimu kemana-mana” ujar pemuda itu. “Aku hanya rindu dengan Ayahanda” ujar Calliope sedih. “sudah, Calliope.. kau tampak kelelahan, beristirahat sajalah dulu” ujar pemuda itu menenangkan.

Namun, Ketika Calliope terlelap, dengan tega pemuda itu memotong sayap Calliope. “Maafkan aku Calliope, aku hanya tidak ingin kau meninggalkanku lagi” gumamnya.

Keesokan paginya, Calliope tampak shock, “Sayapku?!! Apa yang telah kau lakukan!” ujarnya “Tetaplah disini Calliope, aku berjanji akan menjagamu” ujar pemuda itu menenangkan. “Bukan, bukan seperti ini! Kau bunuh semua mimpiku. Sekarang aku sudah tidak bisa lagi Kembali ke istana langit! Dan tidak bisa lagi menabur bunga! Aku sudah cacat!” Calliope merasa sangat sedih.. “Maafkan aku Calliope, mari mulai kehidupan baru bersamaku” pemuda itu pun memeluk Calliope

— Waktu demi waktu mereka jalani. Calliope tampak mulai terbiasa menjalani kehidupan barunya, sebagai manusia biasa. Ia  mengorbankan segalanya demi kebahagiaan Agra. “Calliope, Aku akan pergi berburu” ujar Agra. Namun ia meninggalkan tombak andalannya. Calliope mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dan ia memutuskan untuk mengikuti Agra.

Setelah perjalanan yang cukup jauh, sampailah ia ditepian laut. alangkah terkejutnya Calliope.  “Aku mencintaimu Dores” ujar Agra kepada wanita yang sepertinya tidak asing lagi bagi Calliope.. “Perempuan ituu, gadis pertama yang aku jumpai, iyaaa.. anyelir kuning” ujar Calliope.

Dengan rasa marah, Calliope muncul dihadapan mereka berdua. “Agra! Apa ini balasanmu setelah semua yang aku beri?”ujar Calliope terisak. “Hahaha, perempuan jadi-jadian, bertanduk! Apa kau iblis ha? Kau tidak pantas untuk Agra” jawab perempuan itu. “Anyelir kuning, penghinaan.” Gumam Calliope. “Maafkan aku Calliope, awalnya aku memang sangat mencintaimu, namun setelah kau kehilangan suara indahmu, aku mulai menyadari bahwa aku hanya mencintai suaramu, bukan dirimu yang sebetulnya juga tidak manusia” jawab Agra tanpa mempedulikan perasaan Calliope. “Anyelir kuning, penghinaan. Mawar kuning, ketidaksetiaan” gumam Calliope lagi.

Tapi Agra, aku sudah tidak memiliki apa-apa, bagaimana aku kedepannya? Aku telah kehilangan segalanya. Dimana kurang ku? Kau katakan saja, aku rasa aku telah memberi segalanya” Calliope makin terisak menjadi-jadi. “Maaf Calliope, aku tetap memilih Dores, aku mencintainya” jawab Agra datar dan berlalu meninggalkan Calliope sendirian.

Calliope terpaku, ia benar-benar hancur. Ia kehilangan segalanya demi pemuda itu. Keluarganya, mimpinya, dan kekuatannya. Ia kemudian merogoh sakunya. Melihat kantong bunga yang hanya tersisa 1 bunga. “Bunga Marigold.. apa kau memang ditakdirkan untukku? Untuk merasakan kekejaman manusia dan kedukaan medalam? Ayahanda, maafkan aku. Ternyata kau benar, manusia adalah makhluk paling kejam yang pernah aku temui” Calliope sudah benar-benar hancur dan tidak memiliki harapan.

Sambil memeluk bunga Marigold, ia melompat kedasar laut yang dalam dan gelap. Dalam sedalam luka dihatinya. Dan gelap seperti akhir hidupnya yang malang. Laut itu seketika bercahaya kuning. Cahaya itu dari bunga Marigold. Calliope hidup abadi didasar laut dengan kekecewaanya, namun jiwanya telah mati dibunuh pengkhianatan. Langitpun menurunkan hujan badai gemuruh. Ia berduka kehilangan Dewi Calliope, Dewi pengorbanan. Sekarang Calliope telah abadi Bersama mimpinya, Negeri Ellisian.

***

Penulis: Fara Salsabila